DEMAK – Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Demak menggelar rapat koordinasi wilayah bersama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Demak guna mematangkan persiapan menyambut peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-78 tingkat Kabupaten Demak. Rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Dekopinda Demak ini menetapkan target strategis untuk mendorong peningkatan kelas (scaling up) bagi ratusan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bernaung di bawah koperasi daerah. Harkopnas ke-78 dipandang bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum krusial untuk meluncurkan berbagai program aksi nyata yang mengintegrasikan UMKM ke dalam ekosistem koperasi yang modern, digital, dan berdaya saing global.
Refleksi Hari Koperasi Nasional dan Relevansinya bagi UMKM
Hari Koperasi Nasional yang diperingati setiap tanggal 12 Juli merujuk pada peristiwa bersejarah diselenggarakannya Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya pada tahun 1947. Kongres tersebut menetapkan struktur kepemimpinan gerakan koperasi Indonesia serta menegaskan visi koperasi sebagai pilar utama demokrasi ekonomi bangsa yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Wakil Presiden Pertama RI, Drs. Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, menegaskan bahwa koperasi didirikan untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama (self-help) serta melindungi golongan ekonomi lemah dari eksploitasi kapitalistik.
Dalam konteks perekonomian modern saat ini, relevansi pemikiran Bung Hatta masih sangat kuat, khususnya ketika kita berbicara tentang pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM di Indonesia, termasuk di Kabupaten Demak, menyumbang lebih dari 90 persen lapangan pekerjaan dan menjadi katup pengaman ekonomi saat krisis melanda. Namun, pelaku UMKM sering kali menghadapi keterbatasan yang sama: skala usaha yang kecil, kesulitan mengakses bahan baku murah, teknologi produksi yang sederhana, keterbatasan modal, serta jangkauan pemasaran yang sempit. Di sinilah koperasi harus hadir sebagai solusi kolektif.
Dekopinda Demak melihat bahwa cara terbaik untuk meningkatkan kelas UMKM adalah dengan mendorong mereka bergabung ke dalam wadah koperasi. Dengan berkoperasi, pelaku usaha mikro tidak lagi berjuang sendiri menghadapi persaingan pasar yang kejam. Koperasi bertindak sebagai konsolidator modal, agregator produk, pembeli bahan baku skala besar, serta pembuka akses pasar ritel modern. Peringatan Harkopnas ke-78 menjadi panggung pembuktian bagi gerakan koperasi Demak bahwa model bisnis gotong royong ini sangat efektif untuk mengantarkan pelaku UMKM naik kelas secara terhormat dan mandiri.
Potret dan Tantangan UMKM Koperasi di Kabupaten Demak
Kabupaten Demak memiliki potensi UMKM yang sangat kaya dan variatif, mulai dari sektor kerajinan tangan seperti batik tulis motif pesisiran Demakan, anyaman bambu, industri kreatif olahan hasil laut di sepanjang pesisir Sayung dan Bonang, hingga sektor pertanian hortikultura di wilayah Wonosalam dan Guntur. Ribuan pelaku usaha mikro ini sebagian besar telah bergabung ke dalam berbagai koperasi wanita (kopwan), koperasi simpan pinjam (KSP), maupun koperasi produsen yang tersebar di 14 kecamatan. Koperasi-koperasi ini menjadi penyokong utama permodalan harian mereka.
Meskipun demikian, Dekopinda Demak mencatat masih ada beberapa tantangan klasik yang menghambat laju perkembangan UMKM koperasi tersebut untuk menembus pasar nasional. Pertama adalah masalah legalitas usaha dan sertifikasi produk. Banyak produk makanan olahan UMKM di Demak belum mengantongi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT), izin edar BPOM, serta sertifikasi halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Ketiadaan sertifikasi ini membuat produk mereka tidak dapat dipajang di rak-rak ritel modern dan supermarket besar.
Tantangan kedua adalah kemasan produk (packaging) yang masih sangat sederhana dan kurang menarik minat konsumen kelas menengah ke atas. Kemasan plastik benih tipis dengan label kertas fotokopi sering kali membuat produk kuliner khas Demak yang rasanya sangat lezat terkesan kurang higienis dan bernilai jual rendah. Ketiga adalah keterbatasan pemahaman tentang pemasaran digital (digital marketing). Sebagian besar pelaku UMKM masih mengandalkan transaksi tatap muka konvensional di pasar lokal, sehingga penjualan mereka sangat rentan terganggu jika terjadi penurunan mobilitas warga atau perubahan pola belanja konsumen ke sistem daring.
Strategi Dekopinda Demak: Mengurai Hambatan UMKM Naik Kelas
Untuk mengurai hambatan-hambatan tersebut secara sistematis, Dekopinda Demak bersama Dindagkop UKM telah merumuskan program aksi terpadu bertajuk “UMKM Koperasi Naik Kelas 2026”. Program ini berfokus pada empat pilar penguatan: Legalitas dan Sertifikasi, Redesain Kemasan, Transformasi Digital, dan Akses Permodalan Terintegrasi. Implementasi program ini akan mulai disosialisasikan secara masif menjelang puncak perayaan Harkopnas ke-78 bulan depan.
Pada pilar Legalitas, Dekopinda memfasilitasi pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis bagi seluruh pelaku UMKM anggota koperasi melalui sistem Online Single Submission (OSS). Dekopinda juga menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang Demak dan universitas lokal untuk menyelenggarakan program pendampingan sertifikasi halal gratis (self-declare) bagi ratusan produk kuliner olahan khas Demak. Targetnya, pada akhir tahun 2026, seluruh produk makanan olahan binaan koperasi Demak telah bersertifikat halal resmi.
Pada pilar Redesain Kemasan, Dekopinda mendirikan klinik kemasan (packaging clinic) di kantor sekretariatnya. Di klinik ini, pelaku UMKM dapat berkonsultasi dengan desainer grafis profesional secara gratis untuk merancang logo merek yang menarik dan memilih jenis kemasan modern (seperti standing pouch alufoil atau kemasan hampa udara/vacuum) yang dapat memperpanjang masa kedaluwarsa produk tanpa bahan pengawet kimia. Biaya cetak perdana kemasan baru ini sebagian akan disubsidi melalui dana kemitraan koperasi daerah.
Akselerasi Transformasi Digital dan Pemasaran E-Commerce
Pilar ketiga yang menjadi fokus utama Dekopinda Demak adalah akselerasi transformasi digital bagi UMKM koperasi. Menghadapi era industri 4.0, penguasaan teknologi digital mutlak diperlukan agar UMKM tidak tergilas oleh kompetitor luar daerah. Dekopinda Demak bekerja sama dengan penyedia platform e-commerce nasional dan dompet digital menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Go Digital, Go Global” secara berkala di setiap kecamatan.
Pelatihan ini membimbing para pelaku UMKM langkah demi langkah, mulai dari cara membuat toko online yang menarik di lokapasar (marketplace), teknik memotret produk dengan kamera telepon pintar agar terlihat estetik (product photography), cara menulis deskripsi produk yang persuasif (copywriting), hingga pemanfaatan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook untuk promosi produk secara berbayar maupun organik. Pelaku usaha juga diwajibkan mengadopsi sistem pembayaran non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) guna memudahkan transaksi harian dengan konsumen.
Bagi koperasi pengelolanya, Dekopinda memfasilitasi penggunaan aplikasi e-cooperative yang mengintegrasikan laporan penjualan UMKM dengan sistem pembukuan koperasi. Dengan demikian, koperasi dapat memantau volume penjualan anggota secara real-time dan memberikan analisis pasar mengenai produk apa saja yang sedang diminati publik, sehingga anggota dapat menyesuaikan kapasitas produksi mereka secara efisien.
Akses Permodalan Terintegrasi dan Kemitraan Ritel Modern
Pilar keempat adalah penyediaan akses permodalan terintegrasi yang murah dan aman. Dekopinda Demak menyadari bahwa modal sering menjadi batu sandungan utama bagi UMKM yang ingin menaikkan kapasitas produksinya untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Untuk mengatasi hal ini, Dekopinda memfasilitasi skema pinjaman lunak dengan menghubungkan koperasi simpan pinjam (KSP) berkinerja sehat di Demak dengan bank pembangunan daerah (BPD) Jawa Tengah serta LPDB-KUMKM.
Melalui kemitraan ini, koperasi bertindak sebagai penyalur (channeling) atau penjamin (avalis) bagi pinjaman modal kerja yang diajukan oleh UMKM anggotanya. Bunga pinjaman yang ditawarkan sangat kompetitif, jauh di bawah suku bunga kredit komersial perbankan biasa, dan bebas dari potongan biaya administrasi tersembunyi. Skema ini menghindarkan pelaku usaha mikro dari jeratan pinjaman online ilegal (pinjol) maupun rentenir yang menerapkan bunga harian sangat mencekik.
Selain permodalan finansial, Dekopinda juga aktif membangun “permodalan pasar” melalui business matching dengan pengelola ritel modern, pusat perbelanjaan, perhotelan, dan restoran di wilayah Jawa Tengah. Koperasi bertindak sebagai penjamin kualitas dan kontinuitas pasokan produk UMKM, sehingga pihak ritel modern merasa aman untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Beberapa produk unggulan Demak seperti kerupuk ikan, abon lele, dan kopi lokal kini telah berhasil masuk ke jaringan minimarket waralaba nasional berkat mediasi kolektif koperasi.
Semarak Rangkaian Kegiatan Harkopnas Ke-78 di Demak
Menjelang hari puncak peringatan Harkopnas ke-78 pada tanggal 12 Juli, Dekopinda Demak telah menyusun rangkaian kegiatan meriah yang melibatkan ribuan warga dan pelaku usaha di Kabupaten Demak. Rangkaian acara akan diawali dengan kegiatan Jalan Sehat Koperasi yang diikuti oleh perwakilan seluruh pengurus, pengawas, dan anggota koperasi se-Kabupaten Demak, dilanjutkan dengan aksi sosial donor darah, pembagian paket sembako murah bagi warga kurang mampu, serta ziarah ke makam para tokoh pelopor koperasi daerah Demak.
Acara utama yang paling dinantikan adalah “Demak Cooperative & UMKM Expo 2026” yang akan digelar selama tiga hari berturut-turut di Alun-Alun Simpang Enam Demak. Expo ini menyediakan puluhan stan pameran gratis bagi UMKM binaan koperasi dari 14 kecamatan untuk memamerkan produk terbaik mereka secara langsung kepada masyarakat. Di sela-sela pameran, panitia juga menyelenggarakan talkshow interaktif tentang tips sukses UMKM naik kelas, lomba desain kemasan kreatif, serta pentas seni budaya tradisional Demakan untuk menarik kunjungan wisatawan.
Puncak acara akan ditandai dengan upacara peringatan Hari Koperasi Nasional ke-78 yang dipimpin langsung oleh Bupati Demak. Dalam upacara tersebut, Pemerintah Kabupaten Demak bersama Dekopinda akan memberikan penghargaan kepada Koperasi Berprestasi Tingkat Kabupaten, Tokoh Pelopor Koperasi Daerah, serta UMKM Mitra Koperasi Inspiratif yang sukses membuktikan pertumbuhan usaha secara signifikan selama setahun terakhir.
Kurikulum Pemasaran Digital dan Optimalisasi Profil Bisnis Lokal
Detail program transformasi digital yang dirancang oleh Dekopinda Demak mencakup kurikulum yang sangat spesifik dan aplikatif. Pelaku UMKM tidak hanya diajarkan cara mengunggah gambar produk di media sosial, melainkan dilatih secara mendalam mengenai Search Engine Optimization (SEO) lokal dan optimalisasi Profil Bisnis Google (Google Business Profile). Pelatihan ini penting agar toko fisik milik UMKM atau kantor koperasi produsen dapat dengan mudah ditemukan di peta digital ketika wisatawan atau pembeli mencari komoditas khas Demak di mesin pencari internet.
Materi pelatihan juga mencakup teknik periklanan digital berbayar (Facebook Ads & TikTok Ads) dengan penargetan demografis yang presisi. Koperasi memfasilitasi pembuatan studio foto mini bersama di kantor Dekopinda yang dilengkapi dengan kotak pencahayaan (lightbox) dan kamera resolusi tinggi untuk memfasilitasi pembuatan katalog digital gratis bagi seluruh anggota. Dengan katalog digital yang berkualitas tinggi, UMKM Demak siap bersaing memperebutkan pangsa pasar e-commerce nasional yang sangat kompetitif.
Kurikulum ini juga mencakup materi tentang manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship Management/CRM) sederhana menggunakan aplikasi WhatsApp Business. Pelaku UMKM diajarkan cara mengelola database pelanggan, merespons pesan secara cepat menggunakan fitur pesan otomatis, serta mengelompokkan pelanggan berdasarkan riwayat pembelian. Penguasaan keterampilan CRM ini terbukti meningkatkan retensi pembelian berulang (repeat order) oleh pelanggan luar daerah hingga sebesar 25 persen.
Sinergi Komunitas Kepemudaan Koperasi dalam Menyongsong Indonesia Emas
Upaya menaikkan kelas UMKM koperasi di Demak juga melibatkan peran aktif generasi muda melalui sinergi dengan komunitas Pemuda Koperasi Demak. Dekopinda Demak menyadari bahwa keberlanjutan gerakan koperasi sangat bergantung pada regenerasi kepemimpinan. Pemuda koperasi yang terdiri dari mahasiswa dan wirausahawan muda bertindak sebagai mentor digital bagi pelaku UMKM senior yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan perangkat gawai modern.
Kolaborasi antargenerasi ini menciptakan transfer pengetahuan yang harmonis. Pelaku UMKM senior membagikan kearifan budi daya atau resep masakan tradisional yang otentik, sementara pemuda koperasi memberikan sentuhan inovasi pemasaran digital, kemasan modern, dan administrasi keuangan digital. Keterlibatan aktif pemuda juga membawa energi segar dalam perancangan acara pameran, pembuatan konten video kreatif di media sosial, serta kampanye gerakan mencintai produk lokal di kalangan milenial dan Gen Z.
Sinergi ini juga diarahkan untuk merintis pendirian Koperasi Multi Pihak (KMP) di sektor ekonomi kreatif pemuda. KMP ini mempertemukan kreator konten, pengembang aplikasi, petani organik muda, dan investor lokal dalam satu ekosistem bisnis gotong royong. Dengan keterlibatan generasi muda yang adaptif terhadap perubahan teknologi, koperasi di Demak tidak lagi dipandang sebagai institusi kuno masa lalu, melainkan sebagai mesin ekonomi modern yang relevan menyambut cita-cita Indonesia Emas 2045.
Penerapan Konsep Sirkular Ekonomi (Circular Economy) di Lingkungan UMKM
Satu pilar inovasi yang diperkenalkan Dekopinda Demak menjelang Harkopnas ke-78 adalah pelatihan penerapan konsep Sirkular Ekonomi (Circular Economy) bagi UMKM berbasis koperasi. Konsep ini mengajarkan pelaku usaha untuk meminimalkan limbah produksi dengan mengolah kembali bahan sisa menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Langkah ini tidak hanya berdampak positif bagi pelestarian lingkungan hidup di Demak, melainkan juga menekan biaya produksi dan membuka sumber pendapatan baru bagi UMKM.
Sebagai contoh nyata di lapangan, koperasi produsen olahan laut di Kecamatan Bonang melatih anggotanya yang memproduksi kerupuk dan bakso ikan untuk tidak membuang sisa tulang dan kulit ikan secara percuma. Tulang ikan tersebut kini diolah melalui proses penggilingan dan pemanasan tekanan tinggi menjadi tepung kalsium tinggi yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak atau campuran kerupuk premium. Begitu pula di sektor pertanian Wonosalam, limbah kulit belimbing dan buah jambu yang membusuk saat proses grading di Packing House diolah melalui fermentasi menjadi produk Eco-Enzyme yang berfungsi sebagai pembersih organik serbaguna dan pupuk organik cair berkualitas tinggi untuk disalurkan kembali ke kebun anggota.
Dekopinda Demak memfasilitasi sertifikasi keamanan dan pemasaran bagi produk-produk hasil olahan sisa produksi ini. Melalui pameran Harkopnas, produk kreatif ramah lingkungan ini akan dipamerkan secara khusus dalam klaster "UMKM Hijau (Green MSMEs)". Pengenalan konsep ekonomi sirkular ini membuktikan bahwa gerakan koperasi di Demak telah berpikir jauh ke depan dengan menggabungkan profitabilitas bisnis, kesejahteraan sosial masyarakat, serta kelestarian ekologis lingkungan demi mewujudkan pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Gotong Royong Menuju Kemandirian Ekonomi
Persiapan matang yang dilakukan oleh Dekopinda Demak menyambut Hari Koperasi Nasional ke-78 merefleksikan semangat kebangkitan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Demak. Target ambisius untuk menaikkan kelas UMKM koperasi melalui penguatan legalitas, redesain kemasan, transformasi digital, dan akses permodalan murah merupakan langkah strategis yang sangat tepat untuk menjawab tantangan perekonomian global yang kian kompetitif.
Melalui model bisnis koperasi yang sehat, akuntabel, dan modern, kekuatan modal kecil milik para pelaku UMKM dapat disatukan menjadi kekuatan ekonomi kolektif yang raksasa dan mandiri. Keberhasilan program “UMKM Koperasi Naik Kelas” di Demak diharapkan dapat menginspirasi daerah-daerah lain di Indonesia untuk terus menempatkan koperasi sebagai soko guru perekonomian rakyat yang dinamis, tangguh, inklusif, dan mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.