Rano Karno Dijadwalkan Buka Peringatan Harkopnas Ke-78 di Jakarta

Rano Karno Dijadwalkan Buka Peringatan Harkopnas Ke-78 di Jakarta

Avatar Admin
Juni 4, 2025 Kliping Berita

JAKARTA – Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) Ke-78 yang akan jatuh pada 12 Juli 2025 dijadwalkan dibuka secara resmi oleh tokoh nasional yang juga Pemimpin DKI Jakarta, Rano Karno. Pemusatan peringatan Harkopnas Ke-78 di Jakarta ini dipandang sebagai momentum strategis untuk merevitalisasi gerakan koperasi di wilayah perkotaan (urban), sekaligus mempertegas komitmen daerah dalam menempatkan koperasi sebagai pilar utama kemandirian bangsa di tengah transisi Jakarta menjadi kota global pasca-perpindahan ibu kota negara.

Refleksi Historis dan Relevansi Harkopnas di Era Modern

Setiap tanggal 12 Juli, segenap elemen bangsa memperingati Hari Koperasi Nasional untuk mengenang Kongres Koperasi Pertama yang diselenggarakan di Tasikmalaya pada tahun 1947. Kongres bersejarah tersebut tidak hanya melahirkan struktur organisasi koperasi nasional yang pertama, tetapi juga menetapkan arah perjuangan ekonomi kerakyatan Indonesia yang berlandaskan gotong royong dan keadilan sosial. Tokoh sentral di balik pemikiran tersebut adalah Mohammad Hatta, atau Bung Hatta, yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Bung Hatta meyakini bahwa sistem ekonomi yang adil adalah sistem ekonomi di mana produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Peringatan Harkopnas Ke-78 tahun 2025 mengusung tema besar "Koperasi Pilar Utama Kemandirian Bangsa di Era Global". Tema ini dipilih untuk mengingatkan kembali esensi perjuangan Bung Hatta dalam konteks kekinian yang penuh dengan tantangan globalisasi, perubahan iklim, dan digitalisasi. Koperasi tidak boleh dipandang sebagai sisa masa lalu yang marjinal, melainkan sebagai wadah ekonomi masa depan yang tangguh dan relevan bagi generasi muda.

Refleksi sejarah ini mengajarkan kepada kita bahwa koperasi lahir dari penderitaan rakyat akibat sistem ekonomi kolonial yang eksploitatif. Di masa kini, eksploitasi tersebut berganti wajah menjadi ketimpangan akses informasi, penguasaan modal oleh segelintir konglomerat, dan maraknya praktik kartel. Harkopnas ke-78 harus menjadi pemantik kesadaran kolektif bahwa koperasi adalah senjata paling ampuh untuk melawan ketidakadilan ekonomi tersebut. Gerakan koperasi harus bergerak dari pinggiran menuju pusat panggung ekonomi nasional.

Rencana Rangkaian Acara Harkopnas Ke-78 di Jakarta

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan tingkat nasional, DKI Jakarta telah menyiapkan serangkaian acara akbar yang dirancang untuk menarik perhatian publik luas dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha mikro. Panitia Harkopnas Ke-78, bekerja sama dengan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, telah menyusun agenda kegiatan yang komprehensif:

  • Harkopnas Expo & Festival Kuliner Nusantara: Pameran produk unggulan dari ratusan koperasi produsen dan UMKM binaan dari seluruh provinsi di Indonesia yang akan diselenggarakan di kawasan Monumen Nasional (Monas). Acara ini ditargetkan menarik puluhan ribu pengunjung dan mencatatkan transaksi ekonomi yang signifikan serta mengenalkan ragam kekayaan kuliner lokal yang diproduksi secara higienis oleh koperasi daerah.
  • Seminar dan Forum Bisnis Koperasi Internasional: Diskusi panel yang menghadirkan pakar koperasi dari dalam dan luar negeri (termasuk perwakilan dari International Co-operative Alliance/ICA) untuk membahas topik hangat seperti inovasi koperasi platform digital, transisi energi bersih berbasis koperasi, dan peran koperasi dalam ketahanan pangan perkotaan.
  • Ziarah Tokoh Bangsa: Agenda seremonial namun penuh makna ke makam Bung Hatta di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir Jakarta Selatan, sebagai bentuk penghormatan dan penyegaran komitmen terhadap cita-cita luhur pendiri bangsa.
  • Malam Penganugerahan Tokoh Koperasi: Pemberian penghargaan (awards) kepada para bupati, wali kota, gubernur, serta pengurus koperasi primer berprestasi yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa dalam pembinaan dan pengembangan koperasi di wilayahnya masing-masing.

Penyelenggaraan acara di Jakarta ini juga direncanakan melibatkan unsur seni dan budaya Betawi untuk memperkuat daya tarik wisata. Panggung budaya akan menampilkan kesenian tradisional seperti Ondel-ondel dan Lenong Betawi yang dipadukan dengan pesan-pesan edukatif mengenai pentingnya menabung dan berusaha melalui koperasi sejak usia dini.

Visi Rano Karno: Koperasi Perkotaan (Urban Cooperatives) sebagai Solusi Ketimpangan

Kehadiran Rano Karno untuk membuka peringatan Harkopnas Ke-78 membawa pesan penting mengenai arah pengembangan koperasi di wilayah metropolitan. Rano Karno, yang dikenal luas karena kepeduliannya terhadap budaya lokal dan kesejahteraan rakyat kecil lewat karya-karya legendarisnya seperti "Si Doel Anak Sekolahan", menekankan bahwa potret koperasi di Indonesia selama ini terlalu identik dengan wilayah pedesaan dan sektor pertanian tradisional (seperti Koperasi Unit Desa/KUD). Padahal, tantangan ekonomi terbesar saat ini justru berada di kawasan perkotaan seperti Jakarta, yang diwarnai oleh ketimpangan sosial yang tajam, tingginya biaya hidup, dan maraknya pengangguran terselubung di sektor informal.

Menurut Rano Karno, koperasi harus didorong menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat urban (urban cooperatives). "Kita butuh koperasi yang tidak hanya mengurusi simpan pinjam kecil, tapi koperasi yang bisa mengelola hunian, transportasi publik, dan distribusi pangan warga kota," tegas Rano Karno dalam sebuah diskusi persiapan acara. Beberapa sektor potensial yang perlu diintervensi oleh koperasi di perkotaan antara lain:

  1. Koperasi Perumahan Rakyat (Housing Cooperatives): Solusi penyediaan hunian layak dan terjangkau bagi pekerja berpenghasilan rendah di Jakarta melalui skema kepemilikan kolektif, guna menekan maraknya kawasan kumuh dan spekulasi tanah oleh pengembang swasta raksasa. Anggota menyetor dana secara berkala untuk membangun apartemen sederhana sewa atau milik yang dikelola secara demokratis.
  2. Koperasi Pekerja Kreatif dan Digital: Mewadahi para pelaku industri kreatif, seniman, penulis, serta pekerja lepas (freelancer) digital di Jakarta agar memiliki jaminan sosial, akses pasar bersama, dan kekuatan tawar-menawar kolektif terhadap klien berskala besar.
  3. Koperasi Distribusi Pangan Kota: Menghubungkan jaringan pasar tradisional dan pedagang kaki lima (PKL) kuliner Jakarta dalam satu koperasi pembelian bersama (buying club) untuk memotong rantai pasok bahan pokok sehingga mereka bisa mendapatkan bahan baku murah dan higienis langsung dari daerah produsen.

Sinergi antara Pemprov DKI Jakarta dan gerakan koperasi perkotaan ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas serta menekan tingkat kemiskinan ekstrem di ibu kota secara berkelanjutan.

Menyongsong Jakarta Baru sebagai Kota Global

Peringatan Harkopnas Ke-78 di Jakarta juga bertepatan dengan transisi status Jakarta pasca-tidak lagi menjadi Ibu Kota Negara (IKN). Berdasarkan undang-undang terbaru, Jakarta didesain bertransformasi menjadi kota global, pusat keuangan internasional, dan simpul utama perdagangan regional. Rano Karno mengingatkan bahwa dalam proses transformasi menuju kota global tersebut, Jakarta tidak boleh melupakan aspek keadilan ekonomi bagi warganya. Pembangunan fisik kota yang megah dengan deretan gedung pencakar langit jangan sampai meminggirkan warga asli dan pelaku ekonomi kecil ke pinggiran geografis maupun ekonomi.

Koperasi harus diposisikan as pilar utama dalam jaring pengaman sosial sekaligus motor penggerak ekonomi kerakyatan yang memastikan proses globalisasi Jakarta membawa kemakmuran yang inklusif. Kota global yang sukses di dunia, seperti Seoul di Korea Selatan atau Tokyo di Jepang, memiliki jaringan koperasi konsumsi dan koperasi kredit perkotaan yang sangat kuat yang melindungi warganya dari guncangan inflasi global dan gejolak harga pangan. Jakarta harus mencontoh praktik terbaik tersebut dengan memfasilitasi kemudahan berusaha bagi koperasi melalui alokasi ruang komersial di stasiun-stasiun transportasi publik (MRT, LRT, KRL) dan pusat perbelanjaan modern agar produk koperasi memiliki visibilitas tinggi di mata publik internasional.

Tantangan Regenerasi dan Kampanye Koperasi Masa Kini

Tantangan utama yang dihadapi gerakan koperasi saat ini adalah masalah regenerasi. Banyak koperasi aktif yang kesulitan melakukan kaderisasi pengurus karena minimnya minat generasi muda (milenial dan gen Z) untuk terlibat aktif. Di mata sebagian besar anak muda, koperasi dianggap sebagai lembaga keuangan yang kuno, lamban, tidak efisien, dan sarat akan konflik internal atau korupsi. Citra negatif ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Dekopin dan pemerintah daerah.

Dalam kaitan ini, Rano Karno menyarankan agar peringatan Harkopnas ke-78 dijadikan momentum untuk meluncurkan kampanye nasional re-branding koperasi. Koperasi harus ditampilkan dengan wajah baru yang keren, modern, berteknologi digital, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu-isu sosial-lingkungan (social entrepreneurship) yang sangat diminati oleh generasi muda. Koperasi mahasiswa (Kopma) dan koperasi sekolah harus diaktifkan kembali tidak sekadar sebagai unit toko kelontong, melainkan sebagai inkubator bisnis startup yang melatih jiwa kewirausahaan sosial pemuda dengan memanfaatkan teknologi blockchain atau tata kelola digital.

Kesimpulan: Momentum Emas Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Penyelenggaraan Peringatan Harkopnas Ke-78 di Jakarta yang akan dibuka oleh Rano Karno bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan pernyataan sikap politik-ekonomi yang tegas: bahwa di era persaingan global yang kian sengit, Indonesia tetap memilih jalur demokrasi ekonomi yang menempatkan kemakmuran rakyat sebagai hukum tertinggi. Koperasi adalah kendaraan terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.

Dengan dukungan kepemimpinan daerah yang visioner, sinergi kebijakan yang harmonis antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI, serta partisipasi aktif dari seluruh gerakan koperasi dan generasi muda, peringatan Harkopnas Ke-78 diyakini akan menjadi titik balik (turning point) kebangkitan koperasi Indonesia. Koperasi siap membuktikan diri sebagai pilar utama kemandirian bangsa yang mampu membawa kesejahteraan nyata bagi seluruh rakyat, dari pedesaan hingga jantung kota metropolitan Jakarta menuju Indonesia yang adil dan makmur.

Pemberdayaan Sektor Informal Urban Melalui Koperasi

Rano Karno menyoroti dengan tajam bagaimana sektor informal di Jakarta, seperti pedagang kaki lima (PKL), asisten rumah tangga, pengemudi ojek online, dan pekerja serabutan lainnya, sering kali terabaikan dalam sistem ekonomi formal kota. Mereka kesulitan mengakses pinjaman bank formal (unbanked population) karena tidak memiliki agunan atau slip gaji tetap, sehingga rentan terjerat oleh praktik rentenir keliling atau pinjaman online ilegal dengan bunga selangit yang mencekik kehidupan mereka.

Koperasi kredit perkotaan (credit unions) dan koperasi jasa keuangan syariah (BMT) perkotaan harus diaktifkan secara masif di tingkat rukun tetangga (RT) atau rukun warga (RW) sebagai solusi penyelamat. Melalui koperasi ini, warga informal dapat menabung secara kolektif dan mendapatkan pinjaman modal usaha kecil tanpa jaminan rumit dengan prinsip saling percaya. Rano Karno berkomitmen untuk mendorong integrasi program kartu kesejahteraan sosial Pemprov DKI dengan layanan simpan pinjam koperasi perkotaan agar bantuan stimulus modal dapat disalurkan secara lebih produktif dan tepat sasaran.

Refleksi Ketokohan Bung Hatta dan Kebudayaan Nasional

Sebagai seorang budayawan yang peduli pada nilai-nilai luhur kebangsaan, Rano Karno mengingatkan bahwa koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi komersial, melainkan juga lembaga kebudayaan dan pendidikan karakter. Bung Hatta mendesain koperasi sebagai sarana untuk mendidik rakyat agar memiliki jiwa mandiri (self-help), percaya pada kekuatan diri sendiri, jujur, serta solider terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal sosial terbesar bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai terjangan krisis multidimensi.

Di era modern yang didominasi oleh gaya hidup individualistis, konsumtif, dan pragmatis, nilai-nilai kebersamaan koperasi harus terus disuarakan lewat pendekatan kultural. Rano Karno mengusulkan agar media seni budaya, seperti film, lagu, dan teater rakyat, digunakan secara aktif untuk mengampanyekan nilai-nilai koperasi kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Sejarah perjuangan koperasi harus dikemas dalam bentuk cerita yang menarik, inspiratif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari agar dapat menggugah kesadaran generasi penerus bangsa untuk mencintai dan memajukan koperasi nasional.

Sinergi Program Kerja Dekopin dan Pemprov DKI Jakarta

Menjelang pembukaan Harkopnas ke-78, koordinasi intensif terus dilakukan antara jajaran pengurus Dekopin Pusat, Dekopinwil DKI Jakarta, dan jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov DKI Jakarta. Sinergi ini difokuskan pada sinkronisasi program kerja jangka menengah dalam hal pengembangan ekonomi mikro dan koperasi perkotaan. Beberapa program prioritas yang akan diluncurkan bersama dalam rangkaian Harkopnas antara lain:

  • Program Koperasi JakPreneur: Integrasi program inkubasi wirausaha milik Pemprov DKI (JakPreneur) dengan wadah koperasi, di mana para wirausahawan baru didorong untuk membentuk koperasi pemasaran bersama agar produk mereka dapat dipasarkan secara massal ke instansi-instansi pemerintah dan swasta besar.
  • Revitalisasi Koperasi Pasar Tradisional: Pemberian bantuan sarana teknologi informasi dan pelatihan manajemen bagi koperasi pedagang pasar di bawah naungan PD Pasar Jaya, guna meningkatkan daya saing pasar tradisional menghadapi ekspansi jaringan ritel modern.
  • Program Green Cooperative Jakarta: Inisiasi pembentukan koperasi pengolah sampah dan bank sampah di tingkat kelurahan yang terintegrasi dengan industri daur ulang nasional, guna memecahkan masalah pelik sampah Jakarta sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau bagi warga lokal.

Dengan sinergi program yang konkret ini, peringatan Harkopnas ke-78 diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan seremonial belaka, melainkan meninggalkan warisan (legacy) program kerja yang nyata dan berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan warga Jakarta dan kemajuan gerakan koperasi nasional secara umum. Selain itu, Rano Karno menekankan pentingnya modernisasi sarana fisik pasar tradisional yang dikelola koperasi. "Pasar tradisional kita harus bersih, wangi, dan nyaman dikunjungi agar warga Jakarta tidak semuanya lari ke supermarket modern," tambahnya. Pengintegrasian sistem pembayaran digital non-tunai di pasar-pasar tradisional yang dikelola koperasi juga akan didukung penuh oleh Pemprov DKI Jakarta melalui penyediaan infrastruktur internet gratis di area pasar.

Apresiasi dan Penghargaan Tokoh Koperasi di DKI Jakarta

Sebagai wujud apresiasi atas dedikasi para pejuang ekonomi kerakyatan, Pemprov DKI Jakarta bersama Dekopin dalam momentum Harkopnas ke-78 akan menganugerahkan penghargaan khusus bagi tokoh koperasi berprestasi. Penghargaan ini diberikan kepada para pengurus koperasi yang dinilai berhasil menjaga kelangsungan usaha koperasi serta menyelamatkan para anggotanya dari dampak krisis ekonomi selama masa pemulihan pascapandemi.

Pemberian penghargaan ini dikelompokkan dalam beberapa kategori, di antaranya Kategori Koperasi Pelopor Digitalisasi, Koperasi Pemberdaya Perempuan, dan Koperasi Pemuda Terbaik. Rano Karno berharap penghargaan ini dapat memotivasi seluruh pengurus koperasi di Jakarta untuk terus berinovasi dalam mengelola bisnis koperasi secara profesional, transparan, dan akuntabel, serta menarik minat lebih banyak profesional muda untuk berkarier di gerakan koperasi. Diharapkan dengan adanya penghargaan ini, generasi muda Jakarta melihat bahwa kepemimpinan di koperasi adalah karier yang mulia dan profesional. Koperasi tidak lagi dipandang sebagai tempat bagi pensiunan, melainkan organisasi bisnis modern yang kompetitif. Pemprov DKI Jakarta juga berkomitmen memberikan kemudahan akses perizinan dan penyediaan ruang usaha di fasilitas publik milik pemprov bagi koperasi-koperasi berprestasi ini agar dapat mengembangkan usahanya secara optimal.